SALURAN AIR SEBAGAI TEMPAT SAMPAH

Pertumbuhan penduduk berpemgaruh terhadap bertambahnya pola konsumsi masyarakat yang akhirnya menyebabkan bertambahnya volume sampah. Bertambahnya volume sampah bukan hanya pada jumlah sampah, tetapi juga jenis sampah yang semakin beragam. Kondisi ini deperparah dengan pola hidup masyarakat yang serba instan dan pradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang dan disingkirkan.

            Di sisi lain, pengelolaan sampah hanya dilakukan sebagai sesuatu yang bersifat rutin, yaitu hanya dengan cara  memindahkan, membuang, dan memusnahkan sampah. Pada akhirnya, hal ini berdampak pada semakin langkahnya tempat untuk membuang sampah dan produksi sampah yang semakin banyak mencapai ribuan meter perkubik perhari, menyebabkan TPA/TPS ilegal di berbagai tempat, baik di lahan yang kosong maupun di sungai-siungai serta di saluran-saluran air yang ada. Hal seperti ini kerap kali kita menyaksikan di berbagai tempat, seperti Kota Mataram.

            Di Kabupaten Lombok Timur saja, sungai-sungai dan saluran-saluran air menjadi sasaran bagi warga penduduk untuk membuang sampah. Salah satunya adalah di sekitar komplek rumah sehat, saluran air irigasi bukan hanya air yang mengalir menuju persawahan, akan tetapi sampah-sampah dari warga penduduk yang menyelimuti aliran air tersebut. Belum lagi saluran janban warga penduduk yang berhubungan langsung dengan saluran air tersebut. Tentu sangat terkesan jorok dan menjijikkan. Hal yang serupa adalah di perkampungan Lauk masjid, pada pagi harinya banyaknya sampah yang mengalami kemacetan di saluran air tersebut karena harus menunggu datangnya air deras dari hulu air.Seorang warga penduduk mengatakan “ gak apa-apa membuang sampa di saluran air ini, nanti sih juga hanyut kalau sudah datang air yang keras.” Iyya betul apa kata warga penduduk setempat tadi, tapi perlu dipahami, sampah-sampah yang hanyut itu bermuara  atau  berakhuir di mana? Kalau bermuara di kawasan persawahan atau di lahan perkebunan ataupun di mana saja tentu membuat tumpukan sampah lagi dan tentu meresahkan bagi pemilik sawah atau pemilik kebun kalau melihat banyaknya sampah-sampah yang terdampar di lahan perkebunan atau sawahnya. Untung saja kalau air tersebut mampu menghanyutkan atau mengalirkan sampah-sampah di sepanjang aliran saluran air tersebut, tapi kalau terjadi kemacetan di tengah salauran air tersebut, walhasil akan terbentuk tumpukan sampah, yang pada akhirnya terbentuk luapan air yang merembes di jalanan dan menghalangi orang-orang lewat atau kendaraan yang akan lewat.

            Tumpukan sampah yang mengalami kemacetan di pertengahan saluran air itu dapat diuari oleh bakteri dan merusak ekosistem udara. Bauh menyengat pada hidung orang-orang lewat yang mewujudkan kejorokan dari prilaku warga setempat yang sudah menjadi kebiasaan membuang sampah di saluran air. Tumpukan sampah tersebut juga menjadi kesenangan lalat dan nyamuk untuk membentuk sarang di dalamnya yang nantinya juga akan terbang ke rumah warga penduduk sekitar. Jadi tidaklah mengherankan kalau warga penduduk di sekitar sering mengalami sakit perut, yang mana disebabkan oleh aktifitas lalat yang bergerak dari tumpukan sampah menuju ke berbagai jenis makanan. Begitupun juga nyamuk yang berlkeliaran di dalam rumah yang dalam hal ini dapat menyebabkan penyakit gatal-gatal adalah produk dari warga pnduduk setempat yang membiasakan diri membuang sampah di saluran air.

            Dari prilaku warga masyarakat yang sudah membiasakan dirinya membuang sampah di salauran irigas atau salauran air umum, baik secara terang-terangan maupun secara tersembunyi sangat mengotori lingkungan sekitar. Seperti tadi Lingkungan kampung Lauk Masjid, ketika hujan turun sampah- sampah yang ada di saluran irigasi tersebut mengalami kemacetan, bahkan meluap dan naik menghalangi jalanan yang ada di sebelah kantor Pegadaian Pancor. Prilaku warga penduduk seperti yang digambarkan di sini, bukan hanya terjadi di satu atau dua titik, tapi kita dapat melihat di berbagai tempat, khusunya di wilayah kabupaten Lombok Timur.

            Sebagai pengamat sosial, saya hanya menyarankan kepada pemerintah, khususnya yang membidangi masalah kebersihan kota bahwa jangan hanya memperhatkan pengelolaan sampah yang dipindahkan dari TPA kecil resmi ke TPA besar yang resmi, yang lalu kemudian diangkut oleh petugas kebersihan dengan mobil kuningnya, akan tetapi perlu juga adanya upaya untuk menanamkan kesadaran lingkungan terhadap masyarakat setempat, khususnya yang dekat tempat tinggalnya dengan saluran irigasi atau saluran air umum. Juga kepada warga masyarakat  agar memiliki kesadaran terhadap kebersihan lingkungan dan tentu pula pada jajaran atau struktural di bidang pemerintahan agar lebih memperhatikan kebersihan lingkungan dengan melalui pembinaan atau sosialisasi tentang pentingnya berwawasan lingkungan pada masyarakat. Hanya saja dalam realita yang ada bahwa walaupun pemerintah sudah memberikan sosialisasi kepada warga setempat, namun prilaku itu masih tatap saja muncul. Olehnya sebaiknya pemerintah, khususnya yang membidangi masalah kebersihan harus lebih tegas mengakkan aturan-aturan yang ada yaitu yang berkaitan dengan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Dari aturan yang ada sangat sulit berjalan kalau tidak dibarengi dengan sanksi. Olehnya itu, sanksi harus lebih dikuatkan pula.[] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru