Angkutan Kelebihan Muatan

“Pak Sopir jangan kelewatan dong!” teriak salah sorang warga dipinggir jalan saat angkutan pedesaan yang dipenuhi anak-anak SMP mulai bergerak melaju kearah utara dari depan SMPN 2 Lingsar yang berlokasi di Dusun Merce Desa Batu Kumbung Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat.

Beberapa buah angkutan pedesaan yang biasa beroperasi di jalur Narmada – Lingsar setiap hari disaat mendekati jam sekolah pulang tampak ngetem berbaris rapi dipinggir jalan depan SMPN 2 Lingsar, angkutan desa alias bemo itu dengan setia menunggu kepulangan anak sekolah untuk diantar pulang sampai kerumah mereka masing-masing.

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, ratusan anak-anak SMP tersebut berhamburan keluar pintu gerbang sekolah seolah ingin cepat sampai dirumah berkumpul kembali dengan orang tua dan keluarga mereka, anak-anak yang berasal dari berbagai desa dan dusun yang ada di kecamatan Lingsar dan Narmada itu terlihat sangat gembira dan penuh semangat meninggalkan gedung sekolah tempat mereka belajar setiap hari.

Ada yang pulang berjalan kaki bagi yang punya rumah tidak terlalu jauh dari sekolah mereka, ada pula mereka  dijemput orang tua yang sedari tadi sudah menunggu, namun lebih banyak dari mereka yang naik angkutan pedesaan bagi yang tidak dijemput dan jarak rumahnya jauh dari tempat sekolah. Dan inilah yang menjadi pemandangan luar biasa serta sangat membahayakan keselamatan bagi  anak-anak itu.

Beberapa orang sopir bemo seakan berebut menaikkan sebanyak-banyaknya anak-anak yang masih lugu untuk masuk kedalam mobilnya, seakan tidak peduli dengan kapasitas muatan yang mapu diangkutnya. Karena jelas terlihat dua puluhan lebih anak bertumpuk didalam bemo yang hanya berkapasitas sekitar 18 orang penumpang, persis seperti menumpuk ikan pindang didalam bakul. Belum lagi empat sampai lima orang anak berdiri bergelatungan dibelakan mirip kenek (kondektur).

Dan yang paling mengkhawatirkan beberapa orang anak justru naik keatas angkutan dan duduk bersila tampa ada kursi dan tempat berpegangan saat angkutan tersebut melaju dengan kencang, sungguh sangat membahayakan bagi keselamatan anak-anak yang menjadi penerus tunas bangsa, karena masih polos mereka seakan tidak peduli dengan keadaan seperti itu, sebagaian dari mereka malah tertawa gembira dan bersorak kegirangan tampa mengetahui jika bahaya selalu mengintai mereka.

Pemandangan seperti itu nyaris terjadi setiap hari, memang dari informasi yang kami dapatkan belum pernah terjadi kecelakan ataupun korban jiwa karena angkutan pedesaan yang mengangkut anak sekolah melebihi kapasitas muatan, namun dengan menaikkan penumpang melebihi kapasitaspun sebenarnya para sopir angkutan itu sudah bisa ditindak oleh aparat kepolisian karena melanggar peraturan lalu lintas.

Ulah para sopir itu sebenarnya sudah sering dikeluhkan oleh masyarakat sekitar, hal itu diungkapkan oleh Nurun seorang warga yang berjualan nasi disamping SMPN 2 Lingsar dan setiap hari menyaksikan peristiwa tersebut, “bukan hanya sopirnya, anak-anak juga sering kami ingatkan tapi tetap saja ndak mau” katanya.

Masih menurut Nurun jika selama ini pihak kepolisian tidak pernah menegur atau memberikan saksi kepada para sopir yang kelewatan itu, dan sepertinya juga para gurudi disekolah tidak mau ambil pusing melihat anak didik mereka naik keatas mobil atau pergelantungan dibelakang, atau mungkin bapak ibu guru mereka berpikir tugas mereka hanya mengajar disekolah dan begitu anak-anak sudah keluar dari pintu gerbang sekolah maka sudah bukan menjadi tangnggung jawabnya. Terang wanita 40 tahun yang baru berjualan sekitar satu tahun ditempat itu sambil membayangkan betapa ngerinya jika yang melakukan hal iti adalah anaknya sendiri. (Abdul Satar) - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru