Sungai Dijadikan TPA Sampah

KM. RUNGGU,- Membuang sampah di sungai sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Kecamatan Belo terutama masyarakat yang tinggal di bagian hulu sungai. Saat musim hujan, banjir identic dengan material sampah seperti batang kayu, batang pohon pisang, pucuk bambu, plastic dan lain sebagainya.

            Kebiasaan membuang sampah di sungai, bagi masyarakat di Kecamatan Belo susah dihilangkan. Kesadaran untuk berpola hidup sehat, masih rendah.

Tumpukan material sampah, yang terbawa saat banjir  tergenang di dam yang ada di ujung selatan Desa Rungggu. “Sampah – sampah ini, menunggu air sungainya besar baru bisa terbawa. Kalau tidak, akan selamanya sampah itu tetap berada di dam in,” ujar Ashadi warga Runggu.

            Sampah yang ada, akan mengalir mengikuti air sungai dan akan masuk ke sawah warga apabila tanggul sungai jebol. Jadi sampah itu tak selamanya mengalir sampai ke laut. “Upaya meningkatkan kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai, tidak ada upaya dari pemerintah kecamatan maupun pemerintah desa. Hal inilah yang menyulitkan kades maupun camatnya termasuk para ketua Gapoktan dan GP3A untuk  menggerakkan semangat gotong royong sudah luntur,” ujar ketua RT 02 Desa Runggu, Abdul Haris.

            Melihat tumpukan sampah yang ada di dam, tidak ada upaya dari masyarakat untuk bergotong royong mengeluarkan sampah tersebut dan menyimpanya di pinggir jalan. Sehingga nantinya apabila sudah kering bisa dibakar, “Sekarang semangat gotong royong masyarakat sudah luntur, seiring dengan kemajuan dan perkembangan jaman,” terang Haris.

            Menurutnya, membuang sampah di sungai akan berdampak bila banjir datang. Dan sampai kapan akan munculnya kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai, suatu pertandakah bahwa era sekarang sudah masuk ke era materialistis. (Ris) - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru