Jembatan Peninggalan Penjajah

Penjajahan bangsa asing di negeri ini sudah tidak ada lagi yang berupa infasi secara fisik karena tidak ditemukan para tentara asing yang membawa senjata masuk ke kampong-kampung atau desa-desa seperti dimasa dulu yang menyebabkan ketakutan para penduduk terhadap keganasan para lascar penjajah yang tidak segan-segan untuk menghilangkan nyawa rakyat yang berani menentang keingginan tentara Belanda atau Jepang.

Kini sudah jaman kemerdekaan yang ke-70 tahun Indonesia tercinta ini telah bebas secara fisik dijajah oleh bangsa asing. Tentu secara fisik tidak lagi dirasakan oleh penduduk Indonesia walaupun secara ekonomi dan bidang yang lainnya masih dirasakan namun tidak menyebabkan ketakutan yang histeris seperti yang dirasakan pada saat penjajahan baik oleh bangsa Belanda maupun bangsa Jepang (Nippon).

Peninggalan penjajah sebagian besar sudah banyak punah karena perkembangan jaman yang menuntut serba modern, seperti yang selalu menjadi perhatian kita dalam perjalanan adalah jalan atau jembatan yang dibangun dimasa penjajahan. Hal tersebut sudah jarang yang kita jumpai karena bangunan seperti jalan dan jembatan sangatlah rentan dengan perubahan kondisi alam yang terkadang membuatnya terkikis oleh air setiap musim hujan yang disertai dengan banjir dan termasuk juga gempa bumi yang mengakibatkan keretakan atau patahan dari jalan atau jembatan.

Dalam hal ini akan disampaikan bahwa peninggalan sejarah jaman penjajah masih ada di bagian pelosok di kecamatan Sambelia Lotim tepatnya di dusun Peteran desa Labupandan kec.Sambelia Lotim. Sejak kecil saya sering diajak oleh bapak untuk melintasi jalan tersebut ketika beliau (alm) untuk mengunjungi sahabat-sahabatnya di dusun peteran, dadap, ujung, kemong, tekalok dan lain-lainnya di wilayah sekitar kec.Sambelia tersebut dengan tujuan mencari hasil laut sebagai mata pencahariannya orang tua saya.

Dalam penjelajahan tersebut saya dan bapak berangkat dari rumah di Labuhan Lombok ke peteran tersebut dengan menggunakan kendaraan umum, peristiwa tersebut sekitar tahun 1980-an dan usia saya saat itu masih Kurang lebih 10 tahunan, bapak saya sering bercerita bahwa jembatan yang kita lewati tersebut adalah peninggalan penjajah Belanda dan Jepang.

Namun pada saat itu (1980-an) kamera sangatlah langka bahkan orang tertentu saja yang dapat memilikinya, sehingga untuk mendokumentasikannya (jembatan) sangatlah tidak mungkin seperti yang terjadi sekarang. Dengan hanya membawa handphone (HP) kita sudah dapat mendokumtasikan apa saja yang kita saksikan, itupun jika kita memiliki kesempatan.

Jembatan-jembatan tersebut padahal sering saya lewati sejak saya menjadi PNS di wilayah Sambelia dari tahun 2003, namun tidak terlitas dipikiran saya untuk mendokumentasikan peninggalan sejarah tersebut. Dulu jembatan tersebut kalau tidak salah berjumlah 4 buah, namun kini masih tertinggal 2 buah jembatan yang masih kokoh walaupun usianya sudah mencapai ratusan tahun.

Jembatan tersebut pilar-pilarnya terbuat dari susunan batu-batu tanpa adanya unsure besi yang dicor, akan tetapi masih dapat dipakai sampai saat ini, namun jembatan tersebut tidak memiliki penyangga besi dipinggir-pinggirnya. Ntah apalasannya hal tersebut tidak dibuatkan, apakah sudah rusak dirusak oleh penduduk atau tidak, namun sejak kecil saya tidak pernah melihat pagar jembatan tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Dedy Hermasyah penduduk dusun Peteran bahwa jembatan-jembatan tersebut memang konsisinya seperti itu dari dulu.

Ada dua buah jembatan peninggalan penjajah tersebut yang rusak diakibatkan oleh banjir bandang yang menimpa wilayah kecamatan sambelia pada beberapa tahun yang lalu, sehingga jembatan tersebut di robohkan dan diganti dengan jembatan model sekarang. Padahal jembatan yang dua tersebut sangat unik karena hampil dapat dikatakan jembatan kembar karena hanya berjarak beberapa meter yang disebabkan pecahan satu sungai menjadi dua sehingga terdapat dua jembatan. Namun hal tersebut sudah menjadi kenangan karena tergerus oleh banjir bandang yang tidak bersahabat karena ulah para pembabat hutan.

Oleh sebab itu perlu diperhatikan oleh masyarakat bahwa menjaga lingkungan alam adalah tugas kita semua, bukan hanya dilimpahkan pada pemerintah saja dalam hal ini menteri kehutanan dan jajarannya, akan tetapi tugas kita semua sebagai masyarakat demi keamanan dan kenyamanan hidup kita.

Jembatan tersebut kini masih tinggal dua buah berdiri kokoh melayani masyarakat dusun peteran desa Labupandan, desa Dadap dan sekitanya untuk kegiatan ekonomi dan kegiatan lainnya. Namun apakah jembatan peninggalan sejarah tersebut akan menjadi kenangan saja nantinya, diakibatkan perkembangan penduduk yang semakin pesat sehingga membutuhkan pelebaran jalan dan jembatan…??? Semoga hal tersebut bisa dipertahankan oleh pemerintah dalam hal ini pemerintah Lotim sebagai salah satu bukti bahwa dusun peteran rute perjalanan penjajahan untuk menguras kekayaan alam Indonesia.

Menurut Dedy Hermasyah yang berprofesi sebagai guru sukarela di wilayah kec.Sambelia bahwa dinamakan dusun Peteran karena dulunya para pejuang bangsa yang ada diwilayah Lotim disana tempat markas persembunyiaanya sambil menyerang para penjajah yang lewat membawa hasil rapasan dari para penduduk yang berada dibagian pesisir dusun Tekalok dan sekitarnya.(Alpan)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru